Pernikahan, apa yang terlintas dibenak kalian jika mendengar kata "pernikahan"? Mungkin waktu saya belum nikah, saya membayangkan dream wedding saya. Menikah dengan orang yang asik, good looking, good financial, sabar, dan yang bisa membimbing saya ke jalan Tuhan. Tetapi kenyataan itu tidaklah seindah imajinasi yang kita yang kita pikirkan. Tidak ada manusia yang sempurna. Bener kata bunda Dorce dulu, "kesempurnaan hanya milik Allah". Pun begitu juga saya, sebagai manusia mungkin jauh dari kata sempurna.
Pernikahan dalam bayangan saya adalah ketika dua orang bersatu dan bisa bekerja sama sebagai team yang asyik, yang semuanya itu klop dan saling melengkapi. Sesungguhnya tidak ada orang yang benar- benar cocok untuk menikah, tetapi orang yang sama-sama menerima ketidakcocokan itu lah yang bisa langgeng dalam pernikahan. Kita akan hidup dengan orang yang sama dalam waktu yang lama, menerima kelebihan dan kekurangannya. Yah, sama seperti kita menerima kelebihan dan kekurangan saudara kita , keluarga kita. Ada hal yang pastinya tidak cocok dengan pemikiran kita tetapi kita harus tetap saling menyayangi satu sama lain. Lalu kenapa dengan pasangan kita sendiri kita tidak bisa untuk menerima kekurangannya. Ketidakcocokan itu hanya timbul dari mindset yang kita harapkan terhadap pasangan. Ada banyak orang yang mempunyai mindset dengan ekspektasi yang berlebihan sehingga pada saat ekspektasi itu tidak didapat malah justru membuat kita kecewa. Menikah bukan hanya untuk beberapa tahun saja ,ada banyak orang tua yang masih terlihat akur dengan pasangannya sampai dengan maut memisahkan itu karena mereka menerima kekurangan satu sama lain. Saya mungkin baru saja merasakan asam garamnya pernikahan untuk beberapa bulan ini, namun semakin berjalannya waktu saya menjadi sangat yakin bahwa jodoh itu datang di saat yang tepat dan dengan orang yang tepat. Semakin bersama, semakin tahu ada banyak kekurangan dari masing-masing pribadi, tetapi itu justru membuat saya mengerti arti hidup. Masih sama-sama belajar untuk mengenal karakter masing-masing dan berusaha bagaimana caranya menjadi "orang tua". Orang tua yang tidak dominan terhadap anaknya sehingga si anak tidak merasa orang tuanya otoriter dan tidak bisa diajak diskusi. Namun, bukan pula orang tua yang terlalu membebaskan sang anak untuk berbuat apa saja sehingga anak tidak mengenal attitude terhadap orang lain.
Kehidupan itu adalah pembelajaran, setiap hari kita pasti belajar. Mulai dari hal kecil, sebagai seorang istri saya harus belajar me-manage keuangan keluarga agar terus bisa mengelola keuangan dengan baik dari waktu ke waktu. Sebagai manusia, kadang kita tidak paham dengan diri kita sendiri karena kita terlalu sibuk dengan pemikiran - pemikiran yang kita buat sendiri tanpa adanya masukan dari sudut lain. Menikah membuat saya menemukan sudut pandang baru, yang memang belum tentu sama dengan sudut pandang yang saya miliki bahkan bisa sangat bertentangan. Kita bisa melihat sesuatu dengan helicopter view tidak terlalu dekat sehingga bisa melihat dari sudut pandang manapun.
Menikah membuat kita belajar bagaimana menjadi orang tua. Apa saja harapan kita terhadap anak kita ke depannya dan bagaimana cara mendidik anak dengan baik agar sang anak tetap nyaman bersama orang tuanya bukan merasa hanya diperintah. Untungnya kita hidup di era yang serba modern, apapun yang ingin kita pelajari hampir sangat mudah kita dapatkan. Contohnya saja ilmu parenting saat ini sudah berkembang pesat, kita bisa membaca banyak literatur untuk mendidik anak. Berbeda dengan jaman orang tua jaman dahulu yang masih minim pengetahuan dan wawasan ilmu parenting sehingga cara mendidik mereka terkesan agak diktator dan keras ke anak-anaknya. How lucky we are!
Menikah adalah salah satu fase yang dipilih oleh seseorang untuk belajar hal yang lebih banyak lagi. Namun, bukan berarti yang belum menikah atau memilih untuk tidak menikah tidak bisa belajar hal yang lebih lagi. Semua cerita dan skenario hidup kita sudah diatur Yang Maha Kuasa, menikah bukanlah pencapaian. Setiap orang punya waktu yang pas untuk menikah ataupun untuk tidak menikah. Karena setiap orang berbeda. Saya adalah salah satu orang yang mungkin dianggap telat menikah di usia saya, tetapi saya justru bersyukur menikah di usia saya sekarang. Mungkin proses pendewasaan diri saya untuk menerima orang lain memang cocoknya di usia saya menikah saat ini. Awal pernikahanpun bukan berarti tidak ada konflik, tetapi cara kita bereaksi terhadap konflik dan beradaptasi dengan karakter pasangan akan membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik.
Saya tidak men-judge orang yang bercerai diusia muda ataupun di usia lansia adalah orang yang gagal. Setiap orang tentu punya ceritanya masing-masing, tugas kita disini hanyalah mengambil pelajaran agar kita tetap menjadi individu terbaik versi kita untuk berumahtangga. Semoga kita semua selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan bersama pasangan dan keluarga kita sampai maut memisahkan. Tidak ada tempat ternyaman selain "rumah", namun rumah akan menjadi rumah hunian tempat tinggal yang sepi dan dingin jika anggota keluarganya tidak saling "menghangatkan". Rumah yang nyaman adalah rumah yang dipenuhi oleh Sakinah, Mawaddah Warahmah. Semoga kita selalu dilindungi Allah dan selalu diberkahi oleh Allah.
-F.A-