Hai Millennials...
Akhir-akhir ini kita sudah sangat akrab dengan yang namanya internet , media sosial dan era digital. Sadar gak sadar sebenernya era digital terutama media sosial membentuk cara kita berpandangan dan berperilaku. Saat ini yang paling banyak digandrungi oleh kaum millennial adalah instagram, eiiits tapi ternyata dilansir dari www.idntimes.com bahwa instagram adalah salah satu media sosial yang paling buruk untuk kesehatan mental. Pernah ngerasa gini gak sih, pas pasang foto jalan - jalan dikira pamer, atau pasang foto lagi nongkrong pas weekend sama temen-temen lama dikira sosialita/hedon, atau ini deh pasang quotes isinya "Doa" dikira galau atau sok alim. Pokoknya rasanya pasti ada aja persepsi miring tentang apa yang kita post. Pasang foto pemandangan alam, ada aja komentar nanyain "Kenapa belum ini? Kenapa belum itu? Sementara kenal aja enggak terlalu , seolah-olah nge-judge dia udah paling tahu banget sama pribadi kita. Yah... namanya netijen yang maha benar, mau komen apa aja dah. Bebas.
Kalo kalian pernah ngerasain hal yang sama kaya contoh yang aku tulis di atas, tenaaaang kalian gak sendirian. Aku udah gugling banyak banget sumber yang pernah ngerasain hal yang sama. Capek mikirin komen orang ehhh akhirnya ketemu buku yang keren banget menurut aku.
"Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" oleh Mark Manson.
Tentang apa sih bukunya? Intinya adalah persepsi kita sendiri. Yang mengizinkan kita kecewa, marah, sakit hati itu kita sendiri. Kita sendiri yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam diri kita termasuk suasana hati kita. Keadaaan itu netral, tinggal bagaimana cara kita berpersepsi, cara kita menyikapinya, dan bagaimana sudut pandang kita terhadap keadaan itu. Kita bukan malaikat, kita cuma manusia biasa yang pasti punya salah. Karena kita tidak bisa menyenangkan setiap orang. Pasti ada aja yang kecewa atau marah sama kita karena sikap kita. Tinggal bagaimana caranya kita bereaksi terhadap respon mereka itu. Sedikit sikap bodo amat pasti bisa membantu mendamaikan hati karena kita tidak harus memikirkan hal-hal yang terlalu kompleks. Positif thinking pada setiap keadaan itu hukumnya wajib supaya hati selalu damai. Ingaaat... Setiap kejadian itu bukankah Allah ijinkan, jadi kalo ada yang nyakitin kita, ngecewain kita kalo Allah ijinkan yaaah itu pasti terjadi, tapi kan balik lagi, gimana caranya kita bereaksi.
Kenapa kita kadang merasa kecewa? Karena kita terlalu mengurusi segala hal - ketika kita memperhatikan setiap orang dan setiap hal (a.k.a kepo lah gitu yah)- Kita akan senantiasa merasa bahwa kita berhak merasa nyaman dan bahagia kapan saja , bahwa semuanya harus sama persis dengan apa yang kita inginkan.
That's it! Clear kan?
Sebagian besar dari kita, sepanjang hidup, memberikan terlalu banyak perhatian untuk situasi yang sebenarnya tidak layak dipedulikan. Contoh, kita terlalu gusar pada petugas pom bensin yang mukanya jutek dan kasar yang memberikan uang receh untuk kembalian. Kita terlalu risau ketika program TV yang ada sekarang tidak terlalu banyak yang informatif, malah kebanyakan infotainment, atau kita kesal karena rekan kerja atau tim yang gak terlalu "behave" sama kita, atau bahkan kita jadi galau karena pesan WA kita ga dibales atau cuma di read doang.
What a unimportant thing!
Ingat semuanya netral, keadaan itu bisa jadi positif atau negatif, ya dari mindset kita masing-masing. So, kalo pesen WA kamu gak dibaca atau gak dibales, So What? Apakah itu adalah sebuah kegagalan dalam hidup kalian? Nope. Gak ada relevansinya sama sekali, kita cuma terlalu fokus pada hal yang gak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi kita lupa bahwa ada banyak hal yang perlu di coba dan ada banyak tantangan di depan yang harus di challenge sama diri kita.
Generasi millennial harusnya bukan generasi yang punya mental semacam remah-remah rempeyek, mudah rapuh karena hal-hal sepele. Ada banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan.
Yang amat sangat masuk ke benak aku pas baca buku ini adalah ini :
"Dalam hidup kita, mau tidak mau, suka tidak suka, yang namanya penyesalan,kerugian, kegagalan, bahkan kematian itu pasti terjadi.Karena begitu kita nyaman dengan semua "tahi"{Percayalah akan ada sangat banyak} (istilahnya dibuku ini sih gak di sensor) , maka kita akan menjadi tak terkalahkan pada level spiritual."
So, Nasehat buat diri sendiri juga sih dan terutama kaum millennial. Kita harus punya mental yang lebih kuat dari kerupuk atau rempeyek. Jangan gampang baper, apalagi rapuh. Because so much chance is waiting for you guys.
Regards,
F.A

