Setiap orang pasti merasakan kegagalan dan kecewa dalam hidup. Terkadang kita sebenarnya hanya butuh sedikit ikhlas terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita. usia 22 tahun mungkin adalah pelajaran berharga dan aku banyak belajar dari situ. Dari kejadian itu, aku belajar ikhlas dan tidak terlalu berharap dengan makhluk. Sedetik saja hati manusia bisa berubah kalau Tuhan sudah menghendaki. Tuhan menggenggam hati manusia dan Dia menggerakkan hati siapapun yang Dia kehendaki. Tulisan ini aku tulis bukan karena kisah yang akan tuliskan ini sangat berharga, tidak sama sekali. Karena kisah yang sudah selesai menurutku sudah selesai. Namun dari setiap kejadian setidaknya ada pelajaran dan hikmah yang bisa didapat.
Aku tidak terlalu percaya dengan LDR dari awal, karena sebuah hubungan itu dibangun dari komunikasi dan kepercayaan. Sekarang sih mungkin sudah amat sangat gampang untuk komunikasi antar pulau, cukup video call saja kita bisa tahu orang yang kita telpon dimana. Mungkin ini yang dinamakan hukum "Law of Attraction", Sekali dari awal sudah ragu akan bertahan dengan LDR seketika semestapun meng-amini pikiran bawah sadar kita.
Di usia 22 tahun, dimana saat itu aku baru dapet kerjaan dan harus di tempatkan di kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya dan aku tidak punya keluarga disana. PR besar buat aku saat itu harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sebagai anak tunggal yang kemana-mana aku gak pernah dibolehin pergi sendirian, ada ketakutan dan kecemasan tersendiri untuk explore kota baru tempat tinggal ku saat itu. Ketika saat itu teman curhat dan cerita yang paling dipercaya selama 3 tahun terakhir mengingkari komitmennya untuk ke hati yang lain. Rasanya pasti sakit, air mata pastinya gak bisa berhenti mengalir. Orang yang dipikir paling mengerti aku, kurang dan lebihnya aku tiba-tiba hilang bak ditelan bumi, gak bisa dihubungi sama sekali. Tidak ada kata selesai hanya hilang kabar. Mungkin hampir berminggu-minggu istikharah namanya yang selalu disebut ke Tuhan. Cuma memang jawaban istikharahnya tidak mengarah kesana, malah dibuat semakin jauh. Saat itu lah aku belajar ikhlas bahwa apapun yang sudah kita kerjakan tetap Tuhan yang menentukan. Jawaban istikharah baru aku bisa dapatkan clear setelah 2 tahun. kenapa gak jadi sama orang yang dulu nya aku anggap paling mengerti personality ku. Rasanya kalau tahu dari awal kenapa harus ada air mata yang keluar berminggu-minggu karena kejadian itu.
Pelanggaran komitmen atau yang biasa kita dengar pengkhiatan, kedengarannya menyakitkan. Tapi ini mungkin skenario Tuhan supaya aku bisa belajar seikhlas ini. Tidak terlalu berharap dengan mahkluk. Apapun yang sudah kita upayakan sekuat tenaga kalo Tuhan bilang dia bukan takdirmu tidak akan terjadi. Tuhan tahu skenario yang paling terbaik untuk umatnya masing-masing.
Sekarang sudah 7 tahun berlalu, apa aku tidak pernah mencoba suatu hubungan baru? Salah besar, kejadian kemarin tidak serta merta menghentikan harapan-harapanku tentang cinta. Cuma mungkin selama 7 tahun ini, aku sedang berdamai dengan masa lalu dan sambil berdiskusi dengan diri orang seperti apa yang mau aku cari, orang seperti apa yang aku harapkan untuk mendampingi untuk melanjutkan sisa hidup. Trauma? gak juga. Cuma memang terkadang ada pikiran-pikiran diri yang Nge-block pada saat mau dekat dengan orang baru.
Kalo bukan kejadian itu, aku gak mungkin setegar ini. Aku gak mungkin se-selow ini dan sebijak ini saat dapet kejadian yang gak sesuai dengan yang aku harapkan. Cuma memang berdamai dengan ego dan sewaras ini harus continue, sama seperti iman , berdamai dengan ego juga bisa naik dan turun. Tiap levelnya turun, aku harus coba ingat lagi seberapa besar perjuanganku bisa ikhlas melewati kejadian itu. Terima kasih 2012.
Sekarang, penolakan dari orang udah aku anggap biasa. Tidak terlalu dimasukkan hati lalu baper. Setiap baper muncul semenit, seketika pikiran positif untuk mengandalkan Tuhan muncul. Tuhan adalah sebaik-baiknya penolong. Lalu, apa lagi yang harus dikhawatirkan. Khawatir tentang masa depan termasuk pertanyaan orang-orang kapan mesti ini , mesti itu, tidak terlalu dipikirkan. Karena Tuhan ku yang paling tahu kapan waktunya, ia gak akan meleset bahkan se-centimeter-pun.
Yang aku butuhkan adalah mencoba hal-hal baru yang belum pernah aku lakukan, challenge diri supaya bisa terus belajar, ketemu orang -orang baru, pergi ke tempat baru karena dari situ aku banyak belajar hal baru, bersyukur dengan setiap skenario yang Allah atur buat aku.
Nasihat buat diri sendiri.
Regards,
F.A
F.A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar