Selasa, 22 Agustus 2017

Menguak Mitos dan Fakta Pendakian via Medis Bersama Dengan RS Firdaus

Hallo Semua..

Akhir - akhir ini kan lagi santer trendnya buat travelling, biasanya hunting foto - foto kece jadi salah satu alasan para traveller untuk melakukan pendakian. 
Di sebuah acara klub buku dan blogger Backpacker Jakarta yang bekerja sama dengan RS Firdaus yang saya ikuti tanggal 20 Agustus 2017 kemarin tepatnya di Casapatsong's Kitchen, diadakan diskusi santai yang akan membahas tentang mitos dan juga fakta pendakian. Kali ini bersama RS Firdaus akan membahas hal ini dari sisi medis.

Acara ini dimoderatori oleh Mba Nisa (Marketing Manager RS Firdaus). Yang menjadi speaker  di acara ini antara lain
-         dr. Ridho Adriansyah (Beliau adalah spesialis penyakit dalam RS Firdaus),
-    Harley B Sastra (Penggiat Alam, Penulis, dan Pemerhati Konservasi Alam dari Federasi Mountaineering Indonesia)
-         Tyo Survival (Eks Host Survival, Jejak Petualang, dan Co Host Berburu di Trans 7)
-         Siti Maryam (Survivor 4 hari 3 malam di Rinjani)
-         Edi M Yamin (Foauder Backpacker Jakarta)

Guys, selain diskusi,  pada awal acara kita juga difasilitasi untuk melakukan cek  golongan dan kadar gula secara gratis loh oleh RS Firdaus.



 Sebelumnya kita kenalan dulu nih saya RS Firdaus yang kece banget kasih penjelasan panjang lebar tentang topik ini.

Asal mula didirikannya RS Firdaus ini bermula dari tempat praktek dokter umum (dr. Bahtiar Husain) tahun 1995 yang beralamat di Jl Siak No 14 Sukapura, Jakarta Utara. Karena peminat klinik ini semakin banyak akhirnya dr. Bahtiar Husain mengajak rekan - rekan dokternya untuk membuka “KLINIK FIRDAUS” pada tanggal 7 April 1998. Dari dulu, terbukti bahwa RS Firdaus sudah melayani sepenuh hati dengan membuka jasa pelayanan 24 jam.
Seiring dengan berjalannya waktu, pasien terbanyak yang datang berobat di klinik ini adalah pasien PARU, dimana spesifikasi penyakit yang datang seperti infeksi saluran nafas atas, TBC paru, pneumonia, penyakit paru obstruksi khronik, asma dan kanker paru. Oleh karena itu, arah pengembangan Klinik Firdaus ini lebih kearah pelayanan paru. Kemudian karena tuntutan dari pasien yang banyak, dr Bahtiar Husein ditugaskan untuk melanjutkan pendidikan spesialiasinya  di bidang paru di fakultas kedokteran Indonesia. Akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah, RS FIRDAUS di launching pada 28 Mei 2011.

Visi dan Misi RS FIRDAUS

Visi    :         Menjadikan tempat rujukan pernafasan di Jakarta

Misi   :        

-  Memberikan pelayanan secara professional sesuai dengan standard Akreditasi Nasional.
-        Menyediakan fasilitas pelayanan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
-  Menyediakan fasilitas layanan unggulan yang mampu berfungsi sebagai pusat rujukan di Jakarta dalam bidang pelayanan respiratorydan pendukungnya
-  Menggalang kemitraan regional dan internasional dengan industri kesehatan lainnyauntuk mengembangkan pelayanan sesuai perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.

Tekad RS FIRDAUS adalah mewujudkan Rumah Sakit Unggulan paru dengan segmen pasar lebih ke lapisan masyarakat bawah dan berfokus pada Pelayanan Terbaik BPJS. Dan juga mengedepankan “ Profesionalisme yang berjiwa pengabdian”.

Deskripsi di atas semoga bisa memberikan gambaran tentang RS Firdaus ya, jika ingin tahu lebih banyak tentang RS Firdaus bisa klik kesini https://rsfirdaus.wordpress.com yah.  

Base on dr. Ridho Adriansyah, kadang – kadang ada beberapa mitos yang sering berkembang di kalangan masyarakat pada saat naik gunung, berikut adalah penjelasan beliau dari sisi medis.
Pada saat naik gunung penderita hypothermia sering dikira kesurupan. Padahal dari sisi medis, suhu dingin yang kadang ekstrim tidak bisa beradaptasi dengan semua manusia. Akibatnya kadang para pendaki bisa terkena hypothermia pada saat pendakian.
Wanita tidak disarankan naik gunung pada saat haid. Dari sisi medis, pendakian sampai dengan ketinggian 3500 mdpl menyebabkan atmosfer tipis dan oksigen otomatis berkurang. Pada saat sedang haid, darah haid menyebabkan penurunan Hb pada tubuh wanita sehingga untuk mengikat oksigen didataran tinggi dibutuhkan Hb yang lebih banyak. Oleh karena itu, gejala yang timbul adalah tubuh menjadi lemas.
Terkadang beberapa pengalaman menyebutkan para pendaki berhalusinasi melihat sesuatu misalnya bayangan atau lapangan luas. Faktanya secara medis, bisa dikarenakan si pendaki kurang cairan (dehidrasi) atau kekurangan glukosa sehingga menjadi kurang focus.

Beberapa tips yang dibagi oleh dr. Ridho untuk kita yang ingin naik gunung adalah memastikan kesehatan fisik dan mental dalam keadaan fit karena kondisi pada saat di atas dibutuhkan tubuh yang benar- benar fit. Usahakan untuk membawa obat-obatan pribadi, seperti parestamol dan obat asma. Usahakan juga untuk persiapan obat anti mual dan anti alergi yang tersedia apotek – apotek, hal ini adalah pencegahan jika terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, saya juga disuguhkan dengan video tentang alam oleh Mas Harley B Sastra, video alam dan orang utan. Betapa pentingnya keseimbangan ekosistem di dunia ini. Sebenarnya secara sadar ataupun tidak, orang utan adalah penyelamat kita, karena mereka menjaga ekosistem hutan hujan tropis. Betapa pentingnya menghargai alam sekitar kita, bukan untuk masa sekarang saja namun untuk diwariskan ke anak cucu nantinya di masa depan.
Gak kalah seru juga pada saat menyaksikan langsung pembuktian  mitos ular takut akan garam.
Hal ini dibuktikan langsung dengan demo oleh Mas Tyo Survival. Beliau membawa ular piton kemudian disekeliling ular tersebut ditaburi garam. Ternyata ular tersebut tidak takut dengan garam. Garam hanya untuk binatang yang berlendir sedangkan ular bukan hewan berlendir tetapi hewan bersisik.  
 

Satu lagi yang tidak kalah seru dalam acara ini adalah mendengar kesaksian Mba Siti Maryam( dibantu oleh Om Edi ) yang menjadi survivor di Rinjani. Mendengar cerita beliau ada rasa kagum yang luar biasa karena beliau bisa mengontrol pikiran dan mentalnya untuk terus menjadi survivor dan menemukan jalan pulang. Membayangkan untuk tidur semalaman di hutan yang gelap tanpa perlengkapan apapun rasanya sudah tidak bisa dibayangkan. Pesan dari Mba Siti Maryam untuk pendaki terutama pemula, “Kalau melakukan pendakian, jangan pisah dari rombongan dan paling tidak ada teman satu di dekat kita jadi ada yang kasih info kalau kita sedang berada di jalur di luar track pendakian”.

Rasanya banyak ilmu baru yang saya rasakan setelah join di acara ini, tapi ternyata bukan hanya ilmu saja yang dibagikan. Setelah selesai acara, peserta mendapatkan goodie bag dari RS FIRDAUS.  Kebetulan saya mendapatkan Silicone Folding Bottle nya Dhaulagiri. Warnanya kece nih, Pas banget buat keperluan pendakian. 
Salah satu isi goodie bag, persembahan dari RS Firdaus dan Dhaulagiri

Demikian sedikit ulasan saya tentang acara yang diadakan klub buku dan blogger bersama RS FIRDAUS. Semoga yang tidak hadir dalam acara ini pun bisa mendapat ilmunya dari tulisan ini.

Salam!
FA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CEGAH KERUGIAN DENGAN ASURANSI KENDARAAN

S eiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia yang berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah kendaraan,...