Kamis, 15 Februari 2018

GAK NEKAT GAK BERANGKAT


Hallo Semua,
Udah lama banget aku gak nulis di blog, mungkin ini tulisan pertama di tahun 2018.
Btw, aku mau cerita  pengalaman pertamaku mendaki gunung guys. Padahal sedikitpun aku gak punya basic mapala , panjat tebing atau yang berhubungan dengan itu. Kalian juga pasti tau kan persiapan naik gunung itu gak simple, mental dan yang paling penting fisik, at least kalian harus rajin olah raga supaya fisiknya udah terbiasa selama perjalanan yang cukup lama dengan membawa carrier atau kalo bahasa awamnya ransel sih ya.

Okeh, ini dimulai dengan resolusi dan kebosanan akan rutinitas yang aku alami. Mulai dari kerjaan dan sesuatu yang membuat aku berpikir "i need to try something new nih , yang gak pernah aku lakuin seumur hidup".  Selama 1 tahun aku diberi kesempatan untuk merantau, means buat aku masa ini adalah masa yang seru karena aku bisa melakukan hal-hal baru yang mungkin dulunya gak diijinkan oleh orang tua selama aku tinggal di rumah. Masa dimana aku harus belajar gak minta uang sepeserpun even pada saat tertentu "i need money a lot" . Aku harus mengatur keuangan, mulai dari untuk makan, jalan-jalan, hang out dan belanja bulanan atau belanja hal yang  gak penting-penting banget sih. hehe

Awal tahun 2018, ini adalah ending masa merantauku. Artinya aku sudah harus kembali dengan segala peraturan yang ada di rumah orang tua. Walaupun, sebenernya  nikmat berkumpul dengan keluarga tercinta  gak  bisa dibeli dengan  uang. Akhirnya ada ajakan instant dari salah satu teman untuk naik gunung Merbabu. Pertama terlintas dalam benak aku adalah "wow... Merbabu men... aku emang pengen banget sih naik gunung tapi ya gak merbabu juga... haha". 
Setelah  berdiskusi sama seseorang yang telah berhasil meracuni untuk nanjak akhirnya aku memutuskan untuk berangkat dan dia banyak membantu aku untuk minjemin carrier , sleeping bag dan even sepatu (sayang ukurannya gak sama sih).  Karena aku gak punya modal apa-apa buat naik gunung, akhirnya secara  instant juga belanja perlengkapan nanjak. And the day was coming!

Akhirnya aku dan beberapa teman berangkat menuju Boyolali, dan kami akan mendaki via jalur selo. Jalur yang cukup panjang namun aman buat pemula. Orang rata-rata mungkin bisa summit 7 jam, tapi kami (karena ada aku kali yah) summit hampir 10-11 jam. Kalo kata salah satu temen istilahnya "2 tak (dua langkah geletak)" 😂

Yang mau aku sharing disini sebenernya bukan alur atau kronologis aku bisa sampai ke puncak atau perjalanannya. Tapi aku emang banyak belajar dari pengalaman naik gunung pertama kali. Selama perjalanan Semangat kita diuji, awalnya sih agak underestimate dalam hati kalau naik gunung itu yah tinggal jalan doang dan kalau gak kuat istirahat sebentar terus lanjut lagi. Ternyata enggak, justru filosofi untuk kehidupannya dapet banget. Semangat kita bener-bener diuji pada saat naik gunung. Aku sempat berpikir buat gak mau lanjut untuk summit, kenapa karena badan rasanya udah cape banget, Gejala flu udah mulai menunjukkan tanda-tanda di badan, ditambah udara gunung yang dingin banget terus harus ngebayangin kita harus nanjak dalam keadaan gelap dan dingin ngelewatin semak-semak a.k.a hutan. No, Rasanya aku bilang sama diri sendiri "aku sampe sini (sabana 1) aja gakpapa lah, toh juga tar fotonya cuma beda view doang. Nanjaknya kan aku udah tau rasanya dari base camp ke sini". Tapi ada satu kalimat yang bikin aku berubah pikiran , kalimat yang terlontar dari seorang teman "Ini kita udah diketinggian 2500 loh, tinggal 500 meter lagi puncak sayang kalo gak summit". Dan satu lagi kalimat dari temen lainnya nimpalin "Lu mau foto di plang 3142 mdpl nya kan? yang penting ke merbabu foto itu kan? Makanya ayoook summit!". Seketika energy positif langsung ada dalam pikiran dan mentalku, And I Say "YES" to summit!

Pada saat 10 menit sebelum puncak, ternyata ada lagi ujian yang bikin mental maju mundur buat sampe ke puncak. Tiba-tiba cuaca berubah agak ekstrim mirip badai dan pikiranku langsung aneh-aneh deh. Secara baru pertama kali muncak dan tanpa izin dari orang tua (jangan ditiru kalau ini ya ), aku langsung mikirin keselamatan diri , bagaimanapun aku harus yakinin ke orang tua kalau nanti pulang aku baik-baik saja. Jadi sempet mau turun lagi karena mikir takutnya gak aman kalau mau lanjut. Cuma pikiran mental aku menguatkan kembali buat naik, "All is well, masa tinggal 10 menit lagi muncak mesti balik sih, kan sayang udah jalan kali almost 10 jam total dari bawah sampe disini".  Okay, Keep Going!

Sampai di puncak, walaupun kabut tetep aja rasa capeknya terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Pemandangan yang biasanya aku posting cuma ambil dari google , tapi sekarang bisa ambil fotonya langsung alias live man... it's a wow!
Perjalanan menuju puncak ternyata bukan final perjalanan men, kalian harus extra nyiapin tenaga buat turun terutama lutut kalian, gilaaa... aku kira tinggal turunan doang mah gampang. Ternyata itu bikin aku jalan udah kayak lansia.Track yang paling enak kalo turunan yaa bisa main perosotan efek paling celana kotor sm sepatu tapi gak terlalu capek, Dibanding mesti nahan semua beban ke lutut, efeknya gak cuma pas turun men, 3 hari masih berasa cuy. Haha

So, dari perjalanan aku sampe ke puncak pelajaran sangat berasa banget adalah kekuatan mental dan niat. Kalau niat kita gak kuat untuk mencapai tujuan / goal hidup kita, kita bisa belum tentu bisa sampai pada tujuan kita itu. Terus, Just Enjoy your journey aja sih. Pelan-pelan sampe ke tujuan / goal tersebut asal tetep sampe, selama perjalanan / proses hidup dinikmati karena banyak hal - hal yang sebenernya bisa kita nikmati asal kita gak cuma fokus sama hasil akhirnya. Yang ketiga, Gak usah peduliin  orang lain udah mencapai tujuannya tapi kita masih di bawah banget. Selow bro, asal kita konsisten berjalan ke arah tujuan / goal kita itu pasti InsyaAllah sampe juga sama tujuan itu kok.
Yang keempat, Kesehatan itu penting, at least olah raga 10 menit setiap hari bisa membuat kita fun dan menunjang kita untuk tetep semangat berlari ke arah goal kita. Dan the last but not least, Ternyata selama naik gunung kita tahu karakter banyak orang. Mulai dari yang rajin, mau bantuin orang, egois, songong dan lain-lain. Pelajarannya disitu adalah kita harus bisa menempatkan diri dengan perbedaan karakter yang ada. Karena kita hidup dikeberagaman, perbedaan adalah rahmat.

Okay, mungkin itu sharing singkat aku ya guys, semoga bisa meracuni yang belum pernah naik gunung untuk mencobanya. Hahaha.. In your life, you should try one thing that you never try before!
After naik gunung, mungkin kepikiran buat nyobain Paralayang, Sky diving atau bungee jumping. Ah sudahlah, semoga ada kesempatan. Kalo pernah denger, katanya naik gunung itu nagih. Aku setuju. Yang jelas, kalo mau naik gunung safety first ya guys. Liat juga kondisi cuaca terapdetnya.
Aku harap tulisan cukup bisa menjadi racun buat kalian yang masih takut naik gunung. Kalo aku aja bisa 3142 mdpl pertama apalagi kalian guys. 

Salam Lestari!
-FA-

Merbabu, Aku Rindu




                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CEGAH KERUGIAN DENGAN ASURANSI KENDARAAN

S eiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia yang berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah kendaraan,...