Blog
adalah salah satu media untuk berkomunikasi dan sebagai sarana untuk bertukar
informasi, saat ini generasi milenial bisa menyalurkan hobi dan bakat menulisnya
melalui blog. Bahkan ada banyak blogger milenial yang tulisannya tidak hanya menginspirasi tetapi juga bisa menjadi
sumber penghasilan. Saya beruntung bisa mengenal komunitas Klub Buku dan
Blogger BPJ (kubbu bpj) karena dari komunitas ini saya diberikan wadah untuk
memperdalam kemampuan saya menulis. Sebagai informasi tambahan, kubbu bpj
adalah salah satu komunitas yang dibentuk dari kesamaan minat dan hobi sesama
anggota Backpacker Jakarta (untuk info lebih lanjut, bisa dicari via kubbu.net). Bulan desember ini kebetulan
memperingati hari jadi kubbu bpj yang ke-4, dan dalam rangka memperingati hari
jadi tersebut kubbu bpj mengadakan
lomba karnaval 2019 sebagai ajang
untuk mengasah kemampuan teman-teman di bidang baca tulis. Untuk bergabung
dalam lomba ini kita tidak perlu harus bertatap muka secara langsung, ternyata pengaruh
industri 4.0 pun sudah sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Di era
sekarang, semuanya dituntut serba praktis dan cepat baik dalam hal apa pun.
Penggunaan telpon pintar adalah hal yang paling umum kita temui, tetapi masih
banyak orang yang belum pintar menggunakan telpon pintarnya, terutama pada saat
menyebarkan info yang belum diketahui kebenarannya.
Sebagai generasi yang tak lepas dari gadget
terkadang anak - anak diusia produktif masih ada yang belum paham apa maksudnya
dengan literasi digital. Dari sumber wikipedia, literasi digital
adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat - alat
komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi. menggunakan, membuat
informasi dan memanfaatkan secara bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum
dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun sayangnya, tidak semua generasi kita sudah paham dalam menerapkannya di
kehidupan sehari-hari. Maraknya penggunaan gadget saat ini sebagai
sarana untuk berkomunikasi, terkadang menimbulkan keraguan terhadap informasi
yang diterima apakah berita yang diterima memang benar valid atau berita
tersebut belum bisa dipertanggungjawabkan kebenaran. Berita yang belum bisa diketahui
kebenarannya bisa cenderung menimbulkan kebohongan atau tidak sesuai dengan
faktanya. Berita yang mengandung kebohongan atau yang lebih sering kita dengar
dengan istilah hoaks adalah berita yang tidak bersumber. Menurut Silverman
(2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja
disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.
Menurut Werme (2016), mendefinisikan fake news sebagai berita
palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki
agenda politik tertentu.
Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake
news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah
sebagai serangkaian fakta. Oleh karena itu,literasi digital saat ini sangat
diperlukan dan seharusnya sudah dimiliki oleh masyarakat terkhusus generasi milenial.
Salah satu dampak globalisasi adalah penggunaan whatsapp dan BBM, contoh penyebaran informasi melalui pesan whatsapp sering kita temui, terkadang pengirim tidak mencari tahu terlebih
dahulu kebenarannya yang berdampak pada si penerima pesan langsung memercayai
informasi tersebut dan ikut menyebarkan kembali ke rekannya yang lain. Sehingga
terbentuklah suatu informasi yang salah. Pemerintah pun sudah andil dalam mengatasi
hal ini dengan memberlakukan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,
sebab dalam pasal 28
ayat 1 UU ITE. Disebutkan “Setiap
orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan
menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda
maksimal Rp 1 miliar.” Edukasi ini mungkin dirasa lebih mudah untuk
generasi millennials, namun sedikit ekstra usaha untuk ibu rumah tangga yang
sudah cukup berumur, walaupun pasti masih banyak juga dari kalangan mereka yang
langsung paham. Perbedaan pendidikan dan latar belakang sangat berpengaruh
dalam hal pencernaan informasi.
Namun, kita tidak hanya
dituntut untuk melek dan memahami agar data yang kita terima bisa menjadi
informasi yang berguna saja, tetapi kita
juga harus melek dalam hal pemanfaatan teknologi digital. Misalnya di telpon
pintar kita sudah disediakan aplikasi perekam detak jantung dan langkah kaki
yang otomatis membuat kita sadar akan kebutuhan pola olahraga dan makan teratur.
Hal ini bisa berdampak pada pola hidup masyarakat yang sadar akan kesehatan
serta dapat pula memengaruhi tata kelola pemerintahan misalnya dengan membaca
data algoritma kebiasaan masyarakat yang lebih sering berjalan kaki atau
menggunakan sepeda dalam kehidupan sehari-hari, pemerintah bisa mengatur
transportasi massal berbasis data waktu nyata seperti yang dilakukan pemerintah
kota Dublin. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga bisa diterapkan di
Indonesia.
Teknologi pada dasarnya
diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien.
Namun, untuk menguasai teknologi tersebut dibutuhkan kompetensi khusus agar
kita dapat mengoptimalkan fungsinya. Literasi digital bukan hanya kemampuan
menggunakan media digital saja tetapi juga kemampuan untuk menganalisis, berpikir
kritis dan kontrol terhadap penggunaannya agar tidak berlebihan. Yang
terpenting adalah kita yang mengontrol teknologi jangan sampai kebalikannya.
Regards,
FA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar