Kamis, 05 Desember 2019

Apa Pentingnya Literasi Digital?





Blog adalah salah satu media untuk berkomunikasi dan sebagai sarana untuk bertukar informasi, saat ini generasi milenial bisa menyalurkan hobi dan bakat menulisnya melalui blog. Bahkan ada banyak blogger milenial yang tulisannya tidak hanya menginspirasi tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan. Saya beruntung bisa mengenal komunitas Klub Buku dan Blogger BPJ (kubbu bpj) karena dari komunitas ini saya diberikan wadah untuk memperdalam kemampuan saya menulis. Sebagai informasi tambahan, kubbu bpj adalah salah satu komunitas yang dibentuk dari kesamaan minat dan hobi sesama anggota Backpacker Jakarta (untuk info lebih lanjut, bisa dicari via kubbu.net).  Bulan desember ini kebetulan memperingati hari jadi kubbu bpj yang ke-4, dan dalam rangka memperingati hari jadi tersebut kubbu bpj mengadakan lomba karnaval 2019 sebagai ajang untuk mengasah kemampuan teman-teman di bidang baca tulis. Untuk bergabung dalam lomba ini kita tidak perlu harus bertatap muka secara langsung, ternyata pengaruh industri 4.0 pun sudah sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Di era sekarang, semuanya dituntut serba praktis dan cepat baik dalam hal apa pun. Penggunaan telpon pintar adalah hal yang paling umum kita temui, tetapi masih banyak orang yang belum pintar menggunakan telpon pintarnya, terutama pada saat menyebarkan info yang belum diketahui kebenarannya. 

Sebagai generasi yang tak lepas dari gadget terkadang anak - anak diusia produktif masih ada yang belum paham apa maksudnya dengan literasi digital. Dari sumber wikipedia, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat - alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi. menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkan secara bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, tidak semua generasi kita sudah paham dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Maraknya penggunaan gadget saat ini sebagai sarana untuk berkomunikasi, terkadang menimbulkan keraguan terhadap informasi yang diterima apakah berita yang diterima memang benar valid atau berita tersebut belum bisa dipertanggungjawabkan kebenaran. Berita yang belum bisa diketahui kebenarannya bisa cenderung menimbulkan kebohongan atau tidak sesuai dengan faktanya. Berita yang mengandung kebohongan atau yang lebih sering kita dengar dengan istilah hoaks adalah berita yang tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefinisikan fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta. Oleh karena itu,literasi digital saat ini sangat diperlukan dan seharusnya sudah dimiliki oleh masyarakat terkhusus generasi milenial.

Salah satu dampak globalisasi adalah penggunaan whatsapp dan BBM, contoh penyebaran informasi melalui pesan whatsapp sering kita temui, terkadang pengirim tidak mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya yang berdampak pada si penerima pesan langsung memercayai informasi tersebut dan ikut menyebarkan kembali ke rekannya yang lain. Sehingga terbentuklah suatu informasi yang salah. Pemerintah pun sudah andil dalam mengatasi hal ini dengan memberlakukan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebab dalam  pasal 28 ayat 1 UU ITE. Disebutkan “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.” Edukasi ini mungkin dirasa lebih mudah untuk generasi millennials, namun sedikit ekstra usaha untuk ibu rumah tangga yang sudah cukup berumur, walaupun pasti masih banyak juga dari kalangan mereka yang langsung paham. Perbedaan pendidikan dan latar belakang sangat berpengaruh dalam hal pencernaan informasi. 

Namun, kita tidak hanya dituntut untuk melek dan memahami agar data yang kita terima bisa menjadi informasi yang berguna saja, tetapi  kita juga harus melek dalam hal pemanfaatan teknologi digital. Misalnya di telpon pintar kita sudah disediakan aplikasi perekam detak jantung dan langkah kaki yang otomatis membuat kita sadar akan kebutuhan pola olahraga dan makan teratur. Hal ini bisa berdampak pada pola hidup masyarakat yang sadar akan kesehatan serta dapat pula memengaruhi tata kelola pemerintahan misalnya dengan membaca data algoritma kebiasaan masyarakat yang lebih sering berjalan kaki atau menggunakan sepeda dalam kehidupan sehari-hari, pemerintah bisa mengatur transportasi massal berbasis data waktu nyata seperti yang dilakukan pemerintah kota Dublin. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia. 

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien. Namun, untuk menguasai teknologi tersebut dibutuhkan kompetensi khusus agar kita dapat mengoptimalkan fungsinya. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan media digital saja tetapi juga kemampuan untuk menganalisis, berpikir kritis dan kontrol terhadap penggunaannya agar tidak berlebihan. Yang terpenting adalah kita yang mengontrol teknologi jangan sampai kebalikannya.

Regards,
FA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CEGAH KERUGIAN DENGAN ASURANSI KENDARAAN

S eiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia yang berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah kendaraan,...